Beberapa kali Admin mendapatkan pertanyaan melalui email, whatsapp maupun sms yg meminta opini atas kondisi skoliosis yg sedang dialami oleh Penanya. Mohon dengan sangat dipahami bahwa Admin bukanlah seorang dokter, dan oki Admin tidak berkompeten untuk memberikan jawaban. Misalnya mengenai berapa derajad kelengkungan skoliosis berdasarkan foto rontgent yg dikirim ke Admin. Bapak/ ibu harus berkonsultasi ke dokter tulang belakang untuk jawaban atas pertanyaan tersebut. Admin hanya ingin berbagi pengalaman tentang operasi Skoliosis, bukan untuk memberikan opini atau pendapat medis. Terima kasih, semoga bermanfaat dan TETAP SEMANGAT!

Friday, July 08, 2016

Idul Fitri 1437 H

Kami mengucapkan :  Selamat hari raya Idul Fitri 1 Syawal 1437 H,  Taqobbalallahu Minna wa Minkum, Mohon maaf lahir dan Batin atas semua kesalahan kami dari postingan2 yg kurang berkenan di hati anda maupun reply dan komentar yg mungkin tidak memuaskan bapak/ ibu semua. Semoga di hari nan  fitri ini kita semua mampu menjadi pribadi2 yang lebih baik dari kemarin , Aamiin.


Saturday, June 25, 2016

Skoliosis dan Kehamilan

Dari semua postingan status tentang Skoliosis di halaman Facebook Skoliosisku, ternyata yang paling menyita banyak perhatian adalah tentang hubungan Skoliosis dengan Kehamilan. Link artikel berikut mungkin bisa membantu pembaca untuk mengumpulkan datanya :

tabloid-nakita.com 
bidankita.com 
sehatraga.com
anakku.net
alodokter
panduanlengkapuntukibuhamil



Saturday, April 16, 2016

Keluhan Yang Dialami Para Skolioser

Keluhan yg sering dialami oleh para skolioser antara lain adalah seperti berikut ini:

– Rasa pegal dan nyeri di leher dan tulang belakang.
Kesemutan dan sakit pada tangan.
Berkurangnya tenaga pada tangan dalam melakukan aktivitas sehari-sehari seperti membawa tas, mengangkat barang, gelas, payung, dll dsb.
– Rasa nyeri pada tulang belikat (skapula).
– Sering kali susah bernapas dan mengalami gangguan tidur

Perjuangan Ardha, Gadis Mojokerto Melawan Skoliosis 144 Derajat

Health.Detik.com - Jakarta, Didiagnosis menderita skoliosis atau bengkok tulang belakang mungkin bisa langsung meruntuhkan semangat hidup. Apalagi jika lengkungannya sudah berat hingga menjepit paru-paru, seperti yang dialami seorang gadis asal Mojokerto.

Dwi Setya Wardhani (26) alias Ardha, gadis kelahiran Mojokerto Jawa Timur mengidap skoliosis dengan kelengkungan mencapai 144 derajat. Kondisinya begitu parah, hingga tonjolan tulang belakang kelihatan jelas di dada kanan. Bisa dibayangkan, organ-organ tubuh di rongga dadanya pasti terjepit.

Saat pertama kali menyadari ada masalah dengan tulang belakang, Ardha masih duduk di kelas 2 SMP. "Dulu dia mengeluh sering pegal dan nyeri di tulang belakangnya," tutur Sri Wahyurini, ibu Ardha kepada detikHealth, seperti ditulis Senin (18/8/2014).

Selain merasakan nyeri, Ardha menurut Rini juga menunjukkan adanya perubahan fisik pada tubuhnya. Tulang belakangnya semakin bengkok dan lama kelamaan muncul tonjolan tulang di dada sebelah kanan. Setahun kemudian, barulah Ardha diperiksa dan diagnosis menyatakan Ardha mengidap skoliosis.

Dikisahkan oleh Rini, mental Ardha sempat turun mendengar kenyataan tersebut. Anak keduanya itu merasa hidupnya akan berubah total, tidak bisa lagi beraktivitas seperti sedia kala. Ketakutan terbesarnya adalah menjadi orang yang tidak berdaya dengan penyakitnya tersebut.

"Semasa SD, Ardha adalah anak yang aktif, sempat menjadi penari Bali waktu tinggal di Timor-Timur," jelas Rini mengisahkan masa kecil Ardha, yang menetap di Timor-Timur bersama keluarganya pada tahun 1985-1998.

Namun Ardha tak mau menyerah begitu saja. Dalam kondisi sakit, ia bisa menyelesaikan kuliahnya dan mendapatkan gelar Diploma 1 jurusan Akuntansi. Ia pun sempat mendapat tawaran beasiswa ke Yogyakarta, namun kali ini terpaksa ditolak karena kondisi fisiknya tidak memungkinkan.

Sejak itu, semangat Ardha untuk bangkit dan sembuh dari skoliosis semakin berkobar. Masih dalam kondisi sakit, Ardha mencari sebanyak mungkin informasi tentang penyakitnya melalui sebuah komunitas bernama Masyarakat Skoliosis Indonesia (MSI).

Perkenalannya dengan ahli oropedi khusus tulang belakang di RS Cipto Mangunkusumo (RSCM), Dr dr Rahyussalim, SpOT(K), membuka peluang bagi dirinya melakukan operasi. Keinginannya juga mendapat dukungan dari salah seorang pengurus MSI, Tri Kurniawati.

Sang ibu, Rini, awalnya khawatir dan tidak merestui keinginan Ardha untuk operasi. Cerita-cerita miring soal risiko lumpuh dan kematian pascaoperasi selalu membayangi benak Rini, di samping bayangan tentang biaya yang tentu tidak sedikit.

Adalah kebulatan tekad Arda untuk pulih yang akhirnya meluluhkan keraguan Rini. Berkat bantuan pengurus MSI dan fasilitas pembiayaan dari BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial), Arda sukses menjalani operasi di RSCM 7 Agustus silam.

Kini usai operasi, kondisi Ardha mulai membaik meski masih harus terbaring lemah di ruang ICU untuk pemulihan. Pun belum bisa lepas dari ventilitator, alat yang membantunya bernapas.

Kegigihan Adrha melawan skoliosis tak cuma mengantarnya pada peluang sembuh, tapi juga membuatnya tetap produktif di tengah sakitnya. Sejumlah buku telah terbit dari tulisan pemilik nama pena GlucFraulein ini.

Artikel lainnya :

Tulang Belakang Melengkung 144 Derajat, Gadis Mojokerto Ini Gigih Berkarya

Sunday, January 10, 2016

Skoliosis dan Tetek-Bengeknya (PENTING)

Kompas.com — Skoliosis atau tulang belakang bengkok dapat terjadi sejak lahir, remaja, atau dewasa. Skoliosis pada usia dini terjadi akibat kelainan bawaan, sedangkan pada usia remaja dan sesudahnya disebabkan oleh berbagai faktor, seperti genetik dan kelainan pada otot. Namun, lebih sering idiopatik atau belum diketahui pasti penyebabnya.

Jika dikenali sejak dini, skoliosis dapat dicegah agar tidak semakin parah atau semakin bengkok. Dengan demikian, penanganannya lebih mudah dan murah.

Hal itu dikemukakan Direktur Utama Rumah Sakit Ortopedi (RSO) Prof Dr Soeharso Surakarta, Respati S Dradjat, pertengahan Juli lalu.

Skoliosis tingkat berat, yakni derajat bengkok mencapai 40-50 derajat lebih, menyebabkan penderita mengalami gangguan pada pernapasan, sistem peredaran darah, mekanik tulang belakang, dan mengalami proses penuaan lebih cepat.

Untuk deteksi skoliosis, harus dilakukan observasi atau pengamatan 3-6 bulan untuk mengetahui apakah tulang mengalami bengkok secara progresif (berlangsung terus). Pengenalan dini skoliosis dapat dilakukan oleh guru dan orangtua dari anak terkait. Sebanyak 80 persen kasus skoliosis terjadi pada remaja, mulai dari usia 10-11 tahun.

Cara paling mudah, anak diminta membungkuk 90 derajat atau seperti ruku pada gerakan shalat. Sebelumnya, anak diminta menggunakan pakaian yang melekat dan tidak terlalu tebal atau tidak mengenakan pakaian. Pengamat berada persis di belakangnya.
Skoliosis akan tampak seperti benjolan (punuk) pada bagian punggung sebelah atas dan bawah, kiri atau kanan. Ciri-ciri lain tampak ketika penderita berdiri tegak, yakni tinggi pundak tidak sama, pinggul miring, bahu tampak miring, dan ada tonjolan di punggung. Bengkok pada tulang akibat skoliosis dapat berjumlah satu, dua, atau tiga lengkungan. Deteksi lebih teliti dilakukan dengan scoliometer.

Dokter spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi RSO Prof Dr Soeharso Retno Setianing menuturkan, dirinya pernah menggelar penyuluhan dan penapisan terhadap para siswa sebuah sekolah menengah pertama (SMP) di Kota Solo, Jawa Tengah, tahun 2010-2012. Hasilnya, 5 dari 720 siswa mengalami skoliosis. Satu tahun dan dua tahun sesudahnya dilakukan hal serupa untuk siswa kelas I SMP. Hasilnya, dari 240 anak ditemukan 3 anak mengalami skoliosis.

”Orangtua perlu pengetahuan mengenai ciri-ciri skoliosis. Ini untuk mendeteksi anaknya dari kemungkinan terkena skoliosis, baik bayi maupun remaja. Anak-anak yang memahami cara deteksi juga dapat membantu menemukan teman sebayanya yang terkena skoliosis,” kata Retno Setianing.

Terapi
Pada skoliosis yang timbul di masa muda, yaitu pada anak di bawah 10 tahun, bagian tulang yang cacat dibuang, kemudian pasien diterapi untuk menahan laju derajat bengkoknya.

Untuk skoliosis yang terjadi pada usia lanjut, yakni di atas 10 tahun, dilakukan terapi dalam bentuk gips, bracing (bingkai penguat tulang punggung), traksi (penarikan), latihan, atau operasi untuk yang derajat bengkoknya besar, di atas 40-50 derajat.

”Terapi atau operasi tujuannya untuk mencegah agar kurva bengkoknya tidak semakin besar,” kata Respati.

Minimnya pengetahuan masyarakat mengakibatkan banyak kasus skoliosis baru diketahui ketika sudah parah, yakni derajat bengkoknya sangat besar. Sejak 2008, Respati menangani 200 kasus skoliosis. Ia menemukan banyak bentuk skoliosis ekstrem. Kasus terbaru yang ditanganinya, seorang anak mengalami skoliosis sejak kecil baru dibawa ke rumah sakit saat berusia 13 tahun. Akibatnya, kurva bengkok lebih dari 50 derajat.

Sumber : print.kompas.com
Editor : Lusia Kus Anna

Saturday, January 09, 2016

Jika Skoliosis di-cuekin

Ada pertanyaan yang dikirim lewat email seperti ini :
Apa dampaknya jika Skoliosis tidak segera ditangani sedini mungkin atau dibiarkan saja?
Saya hanya menyeringai membacanya. Mungkin si ibu penanya sudah "mulai lelah" dengan kondisi sang putri. Tetap semangat ya bu, pasti ada jalan dari gusti Allah.

Saya kutipkan jawaban dokter yg dulu pernah saya pernah bertanya :

Jika skoliosis didiamkan, lama kelamaan tidak hanya akan memperburuk postur tubuh, tetapi juga mengakibatkan nyeri otot dan juga masalah pada pernapasan. Skoliosis dengan derajad kemiringan yg rendah mungkin tidak sampai mengganggu penderitanya. Tetapi jika sudut kelengkungannya sudah tinggi, penyandang skoliosis biasanya akan mengeluhkan banyak masalah dari bagian yang terkena dampak lengkungan abnormal pada tulang punggung mereka.  Bisa berupa sakit pinggang -karena otot di sekeliling tulang punggung tidak simetris sehingga cepat lelah, atau kalau bengkoknya di tulang punggung atas juga bisa mengakibatkan rongga paru2 menyempit sehingga pasien mudah terkena gangguan penapasan,
Semoga info ini membantu bapak/ ibu untuk bisa segera menetapkan hati dalam memilih tindakan yang paling tepat dan bijak untuk puteri bapak/ ibu.