Beberapa kali Admin mendapatkan pertanyaan melalui email, whatsapp maupun sms yg meminta opini atas kondisi skoliosis yg sedang dialami oleh Penanya. Mohon dengan sangat dipahami bahwa Admin bukanlah seorang dokter, dan oki Admin tidak berkompeten untuk memberikan jawaban. Misalnya mengenai berapa derajad kelengkungan skoliosis berdasarkan foto rontgent yg dikirim ke Admin. Bapak/ ibu harus berkonsultasi ke dokter tulang belakang untuk jawaban atas pertanyaan tersebut. Admin hanya ingin berbagi pengalaman tentang operasi Skoliosis, bukan untuk memberikan opini atau pendapat medis. Terima kasih, semoga bermanfaat dan TETAP SEMANGAT!

Tuesday, March 05, 2013

Merawat dan mengobati balita skoliosis

Scoliosis tidak banyak ditemukan. Awalnya pada usia kanak-kanak, selain bisa juga baru berkembang setelah usia pubertas. Namun kapan pun kelainan itu munculnya, kelainan struktur tulang belakang itu memerlukan perhatian khusus, terutama dari pihak ibu yang mengasuh dan membesarkannya. Apa saja yang perlu ibu ketahui, selain mengenalinya secara lebih dini, juga menghadapinya bila sudah telanjur pada tahapan kelainan yang sudah lebih lanjut, kita membahasnya di sini.

IBU San. merasakan di jemarinya ada yang tidak biasa manakala memandikan puteri sulungnya yang baru 3 tahun. Ia meraba ada tonjolan di bagian tulang punggung si puteri saat menyabuni bagian itu. Sudah sekian lama ia biasa memandikan puterinya, baru pagi itu ia menemukan ada yang dirasakannya abnormal. Esoknya ia membawa sang puteri ke dokter.

Mengenali scoliosis lebih dini
Dokter mendiagnosis sang puteri sulung Ibu San. sebagai scoliosis. Masih tahapan ringan, dan dokternya menyarankan segera memberikan koreksi supaya tidak bertambah parah kelainan lengkung yang menyimpang dari struktur tulang belakangnya. Sang puteri diresepkan jaket khusus penunjang tulang belakang (bracing) agar penyimpangannya berubah ke posisi normal. Jaket khusus harus dipakai terus, selain perlu menjalani fisioterapi dan terapi kerja (occupational therapy).



Kesulitannya, karena memakai jaket khusus sebagai terapi koreksi paling sederhana itu membuat si anak tidak merasa nyaman. Merasa badannya dibebat, tidak leluasa bergerak, dan menjadi kaku, serta rasa gerah yang ditimbulkannya. Tapi itu suatu keharusan demi kesembuhan. Di sini ibu perlu kesabaran untuk membujuk dan menyiasati agar anak tetap mau patuh mengenakannya, hampir sepenuh hari.

Memang tidak ada cara lain yang lebih sederhana dan efektif dari memakai jaket khusus penunjang yang mampu memberikan koreksi terhadap struktur tulang belakang yang menyimpang (shifting) sehingga bila dibiarkan postur tubuh jadi timpang ke salah satu sisi. Bila dibiarkan secara estetika anak kelihatan seolah timpang. Bisa jadi cacat penampilannya. Terlebih bagi anak perempuan, seberapa mungkin koreksi harus dilakukan dan mencapai keberhasilan.

Koreksi dengan jaket khusus bracing, yang harus dengan patuh dikenakan, pada masa tahapan scoliosis yang masih ringan, umumnya dapat memberikan koreksi optimal. Setidaknya tidak sampai kelihatan terbentuknya penyimpangan struktur postur tubuh akibat menyimpangnya susunan ruas tulang belakang.

Satu hal perlu diperhatikan oleh setiap ibu yang memiliki balita, seberapa penting ibu menemukan adanya scoliosis anaknya selagi masih dini. Beruntung Ibu San. menemukan kelainan itu selagi dini. Bukan saja ihwal koreksinya bisa dilakukan lebih sederhana tanpa perlu tindakan operasi, risiko kecacatan pun lebih kecil bila semasih dini dilakukan koreksi seperlunya.

Perhatikan struktur tulang belakang anak, antara lain, saat memandikan anak. Sering-sering meraba bagian tonjolan tulang belakang anak khususnya di bagian dada dan punggung, adakah bagian ruas tulang belakang yang lebih menonjol atau miring posisinya.

Tindakan bedah
Tidak semua kasus scoliosis bisa diatasi dengan memakai jaket khusus atau bracing. Indikasi yang mengharuskan pasien untuk pembedahan dijatuhkan apabila tahapan scoliosisnya sudah lebih berat. Derajat keparahan scoliosis ditentukan oleh sudut kemiringan yang sudah terbentuk pada tulang belakang. Dokter dapat menghitungnya dari hasil foto rontgen tulang belakang. Makin besar sudut (curve) yang sudah terbentuk pada tulang belakangnya, makin parah scoliosisnya. Patokannya pada sudut 25 derajat. Bila lebih dari 45 derajat ini yang dijadikan indikasi untuk pembedahan.

Barang tentu tindakan bedah jauh lebih berisiko untuk terjadinya komplikasi alih-alih memberikan koreksi, karena wilayah tulang belakang tergolong tempat bermuaranya sistem saraf pusat yang apabila terganggu oleh tindakan bedah, lalu bisa merusaknya. Seberapa bisa anak dijauhkan dari indikasi harus dibedah, di luar alasan biaya yang jauh lebih tinggi ketimbang cukup dengan masih bisa dengan bracing.

Ketika dokter mencurigai kemungkinan adanya scoliosis, selain segera dilakukan pemeriksaan foto rontgen tulang belakang dari beberapa arah, dilakukan juga pemeriksaan MRI untuk melihat apakah kelainan struktur tulang belakangnya itu sudah mengganggu sumsum tulang belakangnya. Kita tahu di dalam tulang belakang itulah sumsum tulang belakang berupa serabus saraf dari otak mengalir ke sekujur tubuh.

Kendati tindakan bedah lebih berisiko, namun harus dilakukan juga kalau itu memang satu-satunya cara untuk memberikan koreksi. Dan selama masih memungkinkan cukup dengan bracing, perlu terus melakukan kontrol untuk mengukur curvenya apakah sudutnya tidak progresif bertambah besar. Perhatian ini diberikan sampai anak selesai masa pertumbuhan fisiknya. Bila setelah masa pertumbuhan fisiknya curve sudut scoliosisnya tidak bertambah besar, berarti tidak terjadi progresivitas scoliosisnya, dan koreksi dinilai selesai. Berarti scoliosis tidak akan bertambah buruk.

Upaya pencegahan
Sekali lagi upaya pencegahan jauh lebih meringankan, baik secara ekonomis, maupun risiko kecacatan yang kemungkinan harus dipikul. Ibu perlu lebih jeli mengenali secara dini akan kehadiran scoliosis dengan menaruh perhatian besar pada susunan struktur tulang belakang anak sejak bayi mula. Selain sering-sering meraba tonjolan tulang belakang anak pada setiap kesempatan, perhatian diberikan lebih apabila ada faktor keturunan scoliosis dari pihak suami maupun dari pihak istri. Faktor herediter salah satu dari penyebab scoliosis.

Kasus scoliosis bawaan sejak lahir sudah terbentuk sejak kehamilan sebelum 6 bulan mula. Maka pemeriksaan bayi baru lahir (neonatus) juga perlu mengamati juga apakah ada bibit kelainan scoliosis ini. Kemungkinan masih belum nampak karena masih sangat ringan. Namun melakukan foto rontgen pada kasus bayi yang dicurigai dapat dilakukan, khususnya pada yang berbakat scoliosis bawaan (congenital scoliosis).

Jangan lupa, scoliosis bisa juga baru muncul belakangan. Ada jenis yang baru muncul setelah umur 3 tahun (juvenile idiopathic scoliosis), selain bisa juga baru muncul setelah umur 10 tahun (adolescence idiopathic scoliosis). Maka perhatian ibu tidak boleh berkurang sampai umur anak 10 tahun kalau-kalau anak membawa bakat scoliosis.***

https://www.sahabatnestle.co.id/Page/anak/parenting/tips/merawat-dan-mengobati-balita-scoliosis

1 comment:

  1. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete