Beberapa kali Admin mendapatkan pertanyaan melalui email, whatsapp maupun sms yg meminta opini atas kondisi skoliosis yg sedang dialami oleh Penanya. Mohon dengan sangat dipahami bahwa Admin bukanlah seorang dokter, dan oki Admin tidak berkompeten untuk memberikan jawaban. Misalnya mengenai berapa derajad kelengkungan skoliosis berdasarkan foto rontgent yg dikirim ke Admin. Bapak/ ibu harus berkonsultasi ke dokter tulang belakang untuk jawaban atas pertanyaan tersebut. Admin hanya ingin berbagi pengalaman tentang operasi Skoliosis, bukan untuk memberikan opini atau pendapat medis. Terima kasih, semoga bermanfaat dan TETAP SEMANGAT!

Monday, April 01, 2013

Edukasi pasien : Fakta mengenai skoliosis pada remaja

Skoliosis remaja adalah lengkungan tiga dimensi tulang belakang (bentuk C atau S) yang terjadi pada saat atau menjelang awal pubertas, dengan penyebab yang belum diketahui secara pasti. Berbagai studi telah dilakukan untuk berbagai kemungkinan penyebab (genetik, kontrol batang otak, hormon seperti hormon pertumbuhan dan melatonin) tetapi belum ada kesimpulan pasti yang dibuat. Tidak ada bukti yang menghubungkannya dengan pola makan, kepadatan tulang, postur punggung, atau tas sekolah yang berat sebagai penyebab skoliosis. Skoliosis terjadi pada remaja berusia 10 hingga 14 tahun, dan anak perempuan berusia di atas 9 tahun lima kali lebih rentan menderita skoliosis daripada anak laki-laki seusianya.


Skoliosis dapat menyebabkan berkurangnya tinggi badan jika tidak diobati. Kurva sebesar lebih dari 80 hingga 90 derajat berkaitan dengan sesak serta risiko gagal jantung dan kematian. Pasien dengan derajat skoliosis demikian juga akan lebih mengkhawatirkan penampilan mereka. Namun, keterkaitannya dengan nyeri masih kontroversial, dengan beberapa studi yang menunjukkan sedikit perbedaan dibandingkan dengan populasi normal sementara ada yang melaporkan peningkatan signifikan pada nyeri punggung dengan semakin beratnya skoliosis. 



Pemeriksaan dilakukan dengan Uji Adams, di mana pasien diminta untuk membungkuk ke depan dengan kaki dirapatkan dan membentuk sudut 90 derajat pada pinggang. Dengan demikian pemeriksa dapat dengan mudah memeriksa adanya asimetri batang tubuh atau lengkung tulang belakang yang abnormal. Penanganan bervariasi dari tanpa operasi (pemasangan penyangga) hingga operasi (koreksi bedah), yang bertujuan mempertahankan lengkung tubuh pasien semakin berat melebihi ambang penting 50 derajat saat maturitas. Ambang batas ini penting, karena sekali skoliosis melewati 50 derajat, terdapat kecenderungan untuk semakin meningkat setelah usia dewasa. 

Untuk kasus-kasus ringan, pasien memerlukan pemeriksaan setiap 6-12 bulan. Kasus sedang akan disarankan untuk mengenakan penyangga (brace). Penyangga standar adalah Boston brace, meskipun penyangga dinamis (SpineCor) dapat menjadi alternatif. Penelitian telah menunjukkan bahwa pemasangan penyangga purna waktu secara bermakna lebih efektif dibandingkan dengan penyangga paruh waktu dalam mengendalikan skoliosis. Terapi bedah diindikasikan pada skoliosis lebih dari 40 derajat pada anak yang sedang bertumbuh, dan pada siapapun dengan skoliosis lebih dari 50 derajat. Pembedahan akan melakukan fusi pada tulang belakang (vertebra) yang terkena, dengan posisi yang lebih seimbang dan normal, serta memungkinkan pertumbuhan selanjutnya terjadi secara normal pada bagian tulang belakang lainnya. 

Pendekatan bedah yang berbeda (dari bagian belakang atau depan) dapat dilakukan sesuai dengan karakteristik skoliosis. Pembedahan di sentra kami disertai dengan pemantauan batang spinal dan saraf, yang sangat meningkatkan keamanan operasi. Operasi tulang belakang dengan peralatan modern secara signifikan akan memperbaiki kelainan bentuk tulang belakang dan menghentikan bertambahnya kelengkungan tulang belakang. Teknologi akses minimal yang digunakan pada beberapa kasus skoliosis tertentu memungkinkan parut luka operasi sembuh dengan lebih baik, dengan hasil operasi yang sama. Pasien biasanya dapat pulang dari rumah sakit dalam waktu lima hingga enam hari, dan kembali ke sekolah dalam dua hingga tiga hari. Mereka disarankan menghindari membengkokkan tulang belakang secara berlebihan dan mengangkat barang berat selama 3 hingga 4 bulan. Mereka boleh berenang setelah 6 bulan dan mengikuti olah raga atletik setelah 12 bulan. Sebagai kesimpulan, skoliosis pada remaja merupakan pembengkokan tulang belakang secara progresif dengan sebab yang belum diketahui. Penanganan bergantung pada beratnya lengkung pada tulang belakang, dan penting untuk memulai terapi secara dini sebelum skoliosis menjadi lebih berat. Intervensi dini akan memastikan hasil yang lebih baik.


Penanganan skoliosis pada remaja
Setiap kasus skoliosis, yang didefinisikan sebagai kurva 3 dimensi tulang belakang, adalah sama uniknya seperti orang yang mengalami keadaan ini. Apabila ukuran kurva kurang dari 25 derajat pada anak yang sedang bertumbuh, cukup kami lakukan observasi secara berkala. Pemakaian penyangga ortotik bermanfaat apabila kurva mencapai 25 derajat atau lebih pada anak yang sedang bertumbuh dengan tulang yang belum matang (imatur). Penyangga yang digunakan dapat berupa TLSO (Boston brace) tradisional atau penyangga dinamik SpineCor. Peranan ahli fisioterapi atau manipulasi chiropractor masih kontroversial. Apabila lengkung kurva lebih dari 40 hingga 45 derajat pada anak yang sedang bertumbuh, dan lebih dari 50 derajat pada pasien dengan tulang yang telah matur, operasi mungkin merupakan jalan terbaik. 


Pendekatan bedah

Operasi skoliosis bertujuan untuk menghentikan progresi kurva, sedangkan pada saat yang bersamaan membuat tulang belakang yang bengkok lebih lurus. Penting untuk mencoba mempertahankan pergerakan alamiah tulang belakang sebanyak mungkin. 


Untuk sebagian besar pasien, operasi skoliosis dilakukan dengan pendekatan dari belakang atau posterior, yakni fusi tulang belakang posterior dengan pemasangan alat. Tulang diambil dari bagian lain tubuh pasien (baik jaringan lokal, iga, atau pelvis) dan kemudian dicangkokkan ke tulang belakang. Graf (cangkokan) tulang belakang akan memerlukan sedikitnya satu tahun untuk “mengeras” ke tulang belakang. Saat ini, kami biasanya mengambil tulang dari iga sehingga pada saat yang bersamaan kami juga dapat mengurangi deformitas tonjolan iga. Untuk menstabilkan fusi dan menahan tulang belakang pada tempatnya selama periode waktu ini, 2 batang titanium dipasangkan pada tulang belakang menggunakan kait atau sekrup pedikel, atau keduanya. Untuk kurva yang kaku dan lebar, kami mungkin akan memilih untuk menggunakan batang kobalt-krom, yang lebih kuat dari batang titanium.

Terkadang, pendekatan terbaik adalah dari bagian depan, atau anterior. Hal ini mungkin terjadi apabila pasien hanya datang dengan satu kurva yang bermakna. Pada jenis pembedahan ini, insisi dibuat melalui dada dan/atau rongga abdomen. Apabila kurva terletak pada dada, kami mungkin melakukan operasi torakoskopi – suatu tipe operasi minimal invasif – untuk memperbaiki skoliosis. Teknik ini mungkin dilakukan karena gambar yang diberikan oleh kamera yang terhubung ke torakoskop cukup baik. Teknik ini hanya memerlukan sayatan yang lebih kecil (empat buah sayatan masing-masing sebesar satu setengah inci pada sisi dinding dada, dibandingkan dengan sayatan 10 inci dengan pendekatan biasa dari depan, dan juga menghindari parut luka pada bagian tengah punggung dibandingkan dengan fusi tulang belakang posterior dan pemasangan alat dengan cara tradisional). Hal ini khususnya sesuai bagi pasien-pasien dengan skoliosis hanya terbatas pada tulang belakang torakal, atau tempat tulang belakang dapat dicapai melalui dinding dada. Persyaratan lain di antaranya kurva yang terletak pada sisi kanan. Pada prosedur ini, pasien diposisikan berbaring miring. Paru kanan dikempiskan sementara oleh dokter anestesi selama operasi berlangsung. Pada prosedur ini dilakukan pengangkatan diskus di antara vertebra sehingga tulang belakang menjadi lebih “longgar”. Selanjutnya ruang tersebut diisi dengan tulang yang diambil dari iga. Selanjutnya dilakukan pemasangan sekrup titanium menggunakan pemantauan radiografi. Akan digunakan suatu batang untuk menghubungkan sekrup-sekrup tersebut, dan dengan demikian meluruskan kurva tulang belakang. Gambar di bawah ini memperlihatkan sayatan kecil yang digunakan dalam operasi tulang belakang minimal invasif jenis ini.



Terkadang digunakan pendekatan kombinasi anterior dan posterior (dari belakang), apabila kurva terlalu besar dan kaku. Biasanya, pertama-tama kami akan melakukan pendekatan dari depan untuk “melonggarkan” tulang belakang dengan mengangkat diskus di antara tulang belakang. Pada tahap kedua bagian belakang tulang belakang akan dibuka, dan dilakukan koreksi skoliosis menggunakan kombinasi kait atau sekrup, meskipun kecenderungan saat ini adalah menggunakan sekrup seluruhnya karena memberikan stabilitas yang lebih baik dibandingkan kait.



Secara umum, operasi skoliosis memerlukan waktu 4 hingga 5 jam di kamar operasi dan perawatan di rumah sakit selama sekitar 5 hingga 7 hari. Sebagian besar pasien dapat kembali bersekolah atau bekerja dalam waktu 2 hingga 4 minggu setelah operasi; aktivitas olah raga dapat kembali dilakukan sekitar 12 bulan setelah operasi.

Gambar di bawah ini menunjukkan gambaran sinar x pasien yang mengalami skoliosis berat sebelum dan setelah operasi.

Pemantauan neurofisiologi

Salah satu risiko operasi skoliosis adalah cedera atau kerusakan saraf yang berada di dalam batang spinal. Secara khusus, meskipun jarang terjadi, terdapat kemungkinan kelumpuhan. Biasanya, pasien dibuat tetap sadar selama operasi untuk memastikan bahwa persarafan tidak terkena dan pergerakan tetap normal. Kami menggunakan pemantauan neurofisiologi atau pemantauan saraf intraoperatif secara rutin, yakni dengan memasang kabel sensor dari kaki atau tungkai pasien ke tulang tengkorank. Seorang teknisi akan terus memonitor aktivitas saraf, yang dapat terdeteksi melalui sensor ini selama operasi. Kami juga melakukan uji “membangunkan” tradisional apabila diperlukan.



Dukungan produk darah
Operasi skoliosis dapat menyebabkan kehilangan darah yang cukup banyak. Selama operasi berlangsung, darah dapat dipertahankan dengan menggunakan teknik yang teliti dan peralatan bedah yang canggih untuk menghentikan atau menghambat terjadinya perdarahan yang berlebihan. Pada banyak kasus, darah yang hilang selama prosedur pembedahan dapat diselamatkan dan didaur ulang menggunakan penyimpan sel (cell saver). Beberapa obat dapat diberikan oleh dokter anestesi kami untuk mengurangi perdarahan intraoperatif seperti asam traneksamat. Terkadang, kami akan meminta pasien mendonorkan darah mereka sebelum operasi agar dapat ditransfusikan kembali kepada pasien sendiri selama atau setelah operasi (transfusi otologus).

Kesimpulan
Untuk operasi yang kompleks seperti yang dilakukan pada koreksi skoliosis, tim pelayanan kesehatan yang berpengalaman tidak tergantikan, mulai dari ahli bedah yang memiliki spesialisasi dalam bidang operasi tulang belakang, para perawat di ruang rawat, ahli fisioterapi yang melakukan fisioterapi dada dan fisioterapi rawat jalan. Kami menyediakan bagi para pasien skoliosis:
• Konseling menyeluruh sebelum dan setelah operasi.
• Pendekatan komprehensif untuk tindakan bedah dan nonbedah
• Ketersediaan ahli bedah tulang belakang yang memiliki kemampuan/kualifikasi untuk melakukan operasi tersebut
• Penggunaan gambaran fluoroskopi (sinar x) berkualitas tinggi selama operasi berlangsung 
• Pemantauan saraf intraoperatif 
• Perawatan pascaoperasi yang sangat baik di unit perawatan anak tingkat tinggi dan perawatan intensif kami apabila diperlukan

Gambaran sinar X pasien yang menjalani fusi torakoskopi dan pemasangan alat skoliosis torakal.
Copas dari : http://www.css.sg/bahasa/patient06.html

2 comments:

  1. http://www.news-medical.net/health/Scoliosis-Treatment-(Indonesian).aspx

    ReplyDelete
  2. http://www.news-medical.net/health/What-is-Scoliosis.aspx

    ReplyDelete