Pages

Apa itu Skoliosis?

Sunday, June 02, 2013

Skoliosis masih belum akrab di telinga masyarakat Indonesia. Tetapi bukan berarti kelainan tulang belakang (skoliosis) itu tak ada di Tanah Air. Pakar kesehatan mengatakan sebanyak 2% dari suatu populasi penduduk mengalami skoliosis. Sebanyak 10% dari kelompok penyandang skoliosis itu tergolong berat.  

Apa sebenarnya skoliosis?
Skoliosis berasal dari kata 'skolios' yang berarti bengkok. Jadi skoliosis berarti : pembengkokan pada tulang belakang.  Pembengkokan tulang belakang itu selalu bergerak ke arah samping. Namun jika dilihat dari belakang, pembengkokan ke arah kanan atau kiri. "Tetapi umumnya bengkoknya ke arah kiri. Oleh karena itu, secara harfiah skoliosis itu pembengkokan tulang ke arah samping". Jenis skoliosis sangat banyak. Namun dari banyak jenis itu, terdapat skoliosis yang disebut idiophatic scoliosis atau skoliosis idiofatik.   

Kenapa disebut idiofatik?
Idiofatik berasal dari dua kata 'idiot' yang berarti tidak tahu. Dan kata fatik dari fatologi yang berarti kelainan. Jadi skoliosis idiofatik berarti suatu keadaan yang tidak diketahui penyebabnya kenapa tulang belakang atau punggung orang mengalami pembengkokan.


Apakah Skoliosis penyakit?
Skoliosis bukanlah penyakit. Skoliosis tak berbeda bentuk telinga satu orang yang berbeda dengan sebagian besar orang. Tetapi masalahnya, ada skoliosis yang mengalami progres. Data menunjukkan sebanyak 10% dari penyandang skoliosis yang mengalami progres.  Penyandang skoliosis idiofatik bisa beraktivitas normal sehari-hari. Mereka tidak mengalami kelainan berarti. Tetapi bila skoliosisnya mengalami progres, orang yang menyandangnya akan mengalami gangguan fungsi. "Penyandang skoliosis mengalami rasa sakit pada punggung, pinggang, leher. Kemungkinan pula terjadi gangguan paru-paru, dan pernapasannya. Bahkan dapat terjadi kelainan pada jantung dan pecernaan,"  Sesuai pertambahan waktu, pembengkokan tulang punggungnya semakin parah. Bahkan orang tersebut sampai tak mampu mengunyah dan mencerna dengan baik. "Jika sudah begitu, progesif skoliosisnya harus disetop karena sangat membahayakan,".

Bagaimana penanganannya?
Penanganan skoliosis terdapat dua cara yaitu cara non-operatif dan operatif. Tetapi penanganan itu memiliki empat tujuan :
Pertama, menghentikan progres tulang.
Ke dua, membuat badan lebih seimbang.
Ke tiga, dikoreksi agar tampil lebih baik.
Ke empat, penyandangnya diharap bisa hidup lebih baik.

Cara nonoperatif biasanya dilakukan berupa olahraga seperti renang, perenggangan, fisioterapi, dan olahraga punggung. Tujuannya tak lain untuk menguatkan otot punggung. "Tetapi hal ini hanya untuk pembengkokannya di bawah 20 derajat,".

Untuk pembengkokan yang mencapai 20 derajat hingga 40 derajat harus menggunakan brace atau rangka. "Rangka itu bisa dipakai di badan atau di leher untuk mengoreksi atau menahan laju progresivitas tersebut," katanya. 

Untuk pembengkokan yang kurvanya lebih dari 40 derajat sudah tak mungkin dilakukan cara nonoperatif. Untuk mengatasinya tak ada lagi selain cara operatif. Operasi dilakukan untuk menghentikan progres. Selain itu, operasi juga bertujuan mengoreksi tulang yang bengkok. 

Bagaimana mengoreksinya ?
"Mengoreksinya seperti kita mengoreksi dahan yang bengkok. Dalam operasi, dilakukan pemutaran dan penarikan agar tulang kembeli ke posisi normal dengan didukung baut dan pen".  Sekarang ini pasien skoliosis cukup beruntung. Pasalnya, sudah ada adalah pelayanan yang dapat mengatasi seluruh problem tulang belakang secara terpadu dan komprehensif". 
Dikatakan terpadu karena menangani masalah tulang belakang yang ditangani tim dokter dari berbagai bidang spesialistik seperti dokter spesialis orthopedi tulang belakang, spesialis neurologi, spesialis neurofisiologi, spesialis rehabilitasi medik, dan spesialis radiologi.

7 comments:

  1. SEBAGIAN besar idiopathic scoliosis tidak memerlukan pengobatan, namun perlu di evaluasi dokter setiap 6 bulan (US National library of medicine September 21, 2011.)
    Tatalaksana pada skoliosis bertujuan menghentikan progresivitas dan mencegah deformitas.
    Ada beberapa protokol talaksana skoliosis antara lain :
    ( 1.) Observasi dan kontrol teratur. Pada sebagian ka­sus progresivitas lengkungan tulang belakang dapat berkurang atau berhenti spontan biasanya setelah pubertas.
    ( 2.) Pemasangan ‘’brace’’ dilakukan bila dalam pemeriksaan x-ray lengkungan sudah berada antara 25 sampai 45 derajat tetapi pertumbuhan tulang masih berlangsung.
    ( 3.) Tidakan operasi. Sebagian besar skoliosis tidak me­merlukan operasi, menurut National Institute of Arthritis and Musculoskeletal and Skin Diseases di Ame­rika, disebutkan dari 1000 anak hanya sekitar 3 sampai 5 kasus skoliosis yang lengkungnya cukup besar sehingga me­merlukan koreksi (NIH Publication No. 01ñ4862 July 2008).
    Operasi skoliosis dilakukan oleh ahli bedah ortopedi khu­susnya bidang tulang belakang. Rekomendasi ope­rasi diberikan bila ukuran lengkung skoliosis sudah men­capai 45 derajat atau lebih dan tidak berhasil dihambat dengan pemasangan brace. Untuk memudahkan penggambaran, di bawah ini disertakan X foto pra dan pasca operasi pada anak dengan sudut lengkung diatas 45 derajat.
    Ahli bedah biasanya menunggu sampai pertumbuhan penulangan berhenti, namun hal ini tidak selalu mungkin, sehingga ada operasi yang disebut ‘’Growth Friendly Spine Surgery’’ , teknik operasi dan pemasangan implant yang memungkinkan kontrol lengkung tulang belakang dan mengurangi early spinal fusion. ( The American Academy of Orthopaedic Surgeons : 2011)
    Pengobatan Alternatif.
    Walaupun ada beberapa publikasi, namun belum ada bukti ilmiah yang kuat bahwa pengobatan alternatif bermanfaat bagi penderita skoliosis. Pengobatan alternatif tersebut antara lain
    (a) Chiropractic manipulation
    (b) Electrical stimulation
    (c) Corrective exercise
    (d) Nutritional supplementation .
    Untuk kegiata exercise / olah raga pada umumnya, ‘’Na­tional Institute of Arthritis and Musculoskeletal and Skin Diseases’’ menganjurkan anak skoliosis tetap berolah raga karena selain manfaat secara umum juga me­ngu­rangi kemungkinan osetoporosis dimasa depan. (Bi­mo­sekti Wiroreno-11)
    http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2013/07/24/231886/Penanganan-bagi-Penderita-Skoliosis-

    ReplyDelete
  2. Penyakit Scoliosis atau yang lebih sering disebut dengan Skoliosis adalah penyakit tulang yang membuat bentuk tulang membengkok, arahnya bisa berbeda-beda, kedepan, belakang, samping kanan atau kiri.

    Parahnya, kebanyakan penderita Skoliosis tidak mengetahui penyebab dari kelainan itu. Namun biasanya beberapa hal yang bisa menyebabkan skoliosis adalah sejenis penyakit seperti Sindrom Down, Distrofi, Sindrom Marfan, Distrofi otot, dan beberapa penyakit lainnya.

    Saat penderita masih kecil kelainan tulang skoliosis sulit untuk dikenali, penyakit skoliosis baru bisa diketahui apabila penderita sudah mulai beranjak dewasa. Namun kita patut waspada dengan penyakit ini. Beberapa hal yang harus anda perhatikan adalah gejala skoliosis itu sendiri, jika salah satu anggota keluarga mendapatkan beberapa gejala seperti dibawah ini sebaiknya anda langsung berkonsultasi ke dokter untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Beberapa gejala yang timbul adalah sebagai berikut:
    Nyeri pada punggung
    Terganggunya fungsi kerja aparu-paru dan jantung jika penyakit skoliosis sudah parah.
    Terjadi pembengkokan pada tulang belakang ke arah kanan, sedangkan punggung bagian bawah membengkok ke kiri.
    Bahu bagian kana lebih tinggi daripada punggung bagian kiri.
    Saat penderita kelainan skoliosis membungkuk, akan jelas terlihat vertebra spinalis tidak sejajar.
    Tulang belakang akan mudah terasa lelah terutama jika penderita duduk atau berdiri dalam waktu yang lama.

    Jika gejala-gejala skoliosis diatas anda alami atau salah satu anggota keluarga atau kerabat anda mengalaminya sebaiknya segera menghubungi dokter yang terkait dibidangnya untuk diambil langkah dan cara mengobati skoliosis.

    CARA MENGOBATI SKOLIOSIS

    Cara pengobatannya sendiri bisa dilakukan dengan cara tradisional maupun kedokteran. Untuk pengobatan kedokteran biasanya pengobatan berupa fisioterapi. Penderita akan diberikan penopang yang disebut dengan Milwakee Brace yang berfungsi untuk menahan struktur tulang belakang pada posisi idealnya. Namun tentu bukan hanya itu saja, terapi lain yang mungkin dilakukan adalah proper bed mechanism dan beberapa terapi lainnya.

    http://jani-orthoprost.com/mendeteksi-gejala-skoliosis-pada-anak.html

    ReplyDelete
  3. Sedikit tips untuk para orangtua agar dapat mendeteksi sejak dini apakah anaknya menunjukkan gejala skoliosis atau tidak, baik untuk putra maupun putrinya:

    1. Minta sang anak untuk membungkuk 90 derajat ke depan dan perhatikan kondisi punggungnya.

    2. Apabila terdapat ketidakseimbangan pada tulang punggungnya, segera bawa ke dokter tulang (orthopedi) agar dirontgen dan dapat ditangani secepat mungkin.

    3. Selama masih usia pertumbuhan, tulang punggung anak dapat dikoreksi dengan jaket khusus (konsultasi dengan dokter orthopedi terlebih dahulu), sehingga tidak memerlukan operasi atau dapat diperbaiki melalui terapi ini. Usia pertumbuhan adalah usia paling mudah untuk memperbaiki tulang punggung agar tidak bertambah parah.

    4. Selain dengan bantuan medis, perbaikan tulang juga dapat dibantu melalui olahraga berenang, misalnya dengan gaya katak, karena membantu pergerakan punggung.
    Ciri atau tanda dari seseorang yang skoliosis, dikutip dari Tabloid Bintang adalah sebagai berikut:
    - Kedua pundak atau bahu kiri dan kanan tidak sama tinggi.
    - Salah satu punggung kiri atau kanan lebih menonjol.
    - Pinggul kiri dan kanan tidak simetris, naik sebelah.
    - Dada kiri atau kanan menonjol sebelah.
    - Posisi berdiri tidak tegak dan lurus.

    Selain ciri-ciri fisik, para skolioser juga merasakan keluhan-keluhan seperti:
    - Rasa pegal dan nyeri di bagian leher dan tulang belakang.
    - Kesemutan dan sakit pada tangan.
    - Berkurangnya tenaga pada tangan dalam melakukan aktivitas sehari-sehari seperti membawa tas, mengangkat barang, gelas, payung, dan lain-lain.
    - Rasa nyeri pada tulang belikat.
    - Sering susah bernapas dan mengalami gangguan tidur.

    Penyebab pasti skoliosis masih belum diketahui, bisa dikarenakan faktor keturunan, pernah jatuh dari tempat yang tinggi, posisi duduk yang salah, terlalu sering membawa beban berat di satu sisi atau lainnya. Oleh karena itu, tidak ada salahnya para orangtua mulai mengecek kondisi punggung anaknya secara berkala. Gejala skoliosis tidak langsung kentara secara dramatis, tapi seiring berjalannya usia anak. Apalagi jika derajat kemiringannya sedikit, tidak akan terlihat dan sepintas terlihat normal-normal saja.

    Sekian informasi dari saya, semoga bermanfaat!

    ReplyDelete
  4. Perkembangan derajat pada penderita skoliosis itu akan berhenti pada umur berapa ya? Terimakasih sebelumnya

    ReplyDelete
  5. pertumbuhan tulang kata dokter sampai usia 18 tahun.
    mungkin di usia sama kemiringan ikut berhenti

    ReplyDelete
  6. saya mau tanya, apakah tiduran tengkurep (tidur tetapi dada dibawah) dapat memperburuk? apakah ada pantangan/larangan? cara mengukur kemiringannya bagaimana ya? sorry banyak, saya takut sekali, karena bahu saya tidak lurus. terimakasih :D

    ReplyDelete
  7. sepertinya ga ngaruh ya mbak. sebaiknya periksa ke dokter segera untuk memastikan. beberapa teman dgn kondisi sama setelah diperiksa ternyata bukan skoliosis. Jadi sebaiknya periksa saja ke dokter ya.

    ReplyDelete

Recent Comment

Recent Comments Widget