Beberapa kali Admin mendapatkan pertanyaan melalui email, whatsapp maupun sms yg meminta opini atas kondisi skoliosis yg sedang dialami oleh Penanya. Mohon dengan sangat dipahami bahwa Admin bukanlah seorang dokter, dan oki Admin tidak berkompeten untuk memberikan jawaban. Misalnya mengenai berapa derajad kelengkungan skoliosis berdasarkan foto rontgent yg dikirim ke Admin. Bapak/ ibu harus berkonsultasi ke dokter tulang belakang untuk jawaban atas pertanyaan tersebut. Admin hanya ingin berbagi pengalaman tentang operasi Skoliosis, bukan untuk memberikan opini atau pendapat medis. Terima kasih, semoga bermanfaat dan TETAP SEMANGAT!

Friday, January 24, 2014

IONM, Hindari Komplikasi Pasca Operasi Skoliosis

TEMPO.CO, Jakarta -Pembengkokan tulang belakang atau skoliosis selayaknya ditangani dengan serius. Apalagi jika kurva pembengkokan tulang belakangnya melebihi 40 derajat, penanganannya tidak bisa dilakukan hanya dengan terapi latihan atau penggunaan brace.

Satu-satunya cara penanganan scoliosis tersebut adalah dengan operasi. Tetapi kadang kala tidak semua pasien mau melakukannya. Mereka beralasan bahwa operasi tulang belakang beresiko tinggi. Kasus kelumpuhan, pendarahan dan kematian kadang kala terjadi paska operasi.

Oleh karena itu, kendati operasi sangat membantu memperbaiki kondisi tulang belakang, banyak pasien masih ragu untuk melakukannya. Namun pada era 1990-an, secercah harapa muncul. Dengan dukungan teknologi canggih, sejak 10 tahun yang lalu komplikasi paska operasi semakin kecil.



Penerapan teknologi itu pula yang dilakukan oleh RS. Premier Bintaro dalam menangani pasien skoliosis, yaitu dengan menggunakan peralatan bernama Intra Operative Nerve Monitoring (IONM). DR. dr. Luthfi Gatam, SpOT, (K-Spine) dari Tim Ramsay Spine Center RS. Premier Bintaro mengatakan bahwa dengan IONM, komplikasi pasca operasi tulang belakang pada bagian bawah lumbal dapat dicegah, sehingga kasus kelumpuhan dan pendarahan sudah tidak ada lagi.

Bahkan dengan IONM, operasi skoliosis berat hingga 130 derajat pun dapat dilaksanakan dengan baik dan aman. Tidak hanya itu, operasi daerah servikal yang sebelumnya sangat berisiko pun tidak lagi menjadi kendala besar. Namun penggunaan alat canggih tersebut memerlukan dukungan tim ahli, yaitu dokter spesialis neurofisiologi.

Manfaat dari IONM sendiri sebenarnya adalah dapat menunjukkan fungsi saraf pasien pada saat dioperasi. IONM dapat menggambarkan fungsi saraf yang menghantarkan sinyal ke saraf pergerakan (motorik) pasien. Dalam proses operasi, melalui layar monitor, dokter akan melihat dengan jelas saraf tersebut, meskipun fungsi dalam saraf itu memiliki hantaran sinyal dalam hitungan detik. IONM dapat mendeteksi sinyal sensasi dari bagian bawah tubuh yang menuju otak.

Untuk mengetahui kerja sinyal yang yang menghantarkan ke otak, IONM dilengkapi beberapa kabel. Ujung-ujung kabel tersebut dilekatkan pada bagian tubuh pasien yang merupakan anggota gerak dari bagian tubuh hingga kaki.

Saat operasi skoliosis berlangsung, dokter akan membuka tulang belakang. Pada tulang belakang tersebut, terdapat jaringan saraf. Untuk memperbaiki kondisi tulang, team dokter akan memasukkan baut. Pemasukkan baut tersebut sangat berisiko mengganggu fungsi saraf pasien.

Dengan bantuan IONM, sebelum suatu benda menyentuh menyentuh bagian saraf yang berbahaya, monitor IONM akan memberikan warning, bahkan sebelum baut menempel pada bagian saraf.

Dengan dukungan IONM, dokter yang melakukan operasi tulang belakang tidak akan merasa khawatir, karena komplikasi pada pasien skoliosis dapat dieliminasi. Terlebih dalam dalam operasi, dokter ahli tulang belakang akan dibantu oleh dokter spesilalis neurofisiologi.

Info TEMPO

0 comments:

Post a Comment