Beberapa kali Admin mendapatkan pertanyaan melalui email, whatsapp maupun sms yg meminta opini atas kondisi skoliosis yg sedang dialami oleh Penanya. Mohon dengan sangat dipahami bahwa Admin bukanlah seorang dokter, dan oki Admin tidak berkompeten untuk memberikan jawaban. Misalnya mengenai berapa derajad kelengkungan skoliosis berdasarkan foto rontgent yg dikirim ke Admin. Bapak/ ibu harus berkonsultasi ke dokter tulang belakang untuk jawaban atas pertanyaan tersebut. Admin hanya ingin berbagi pengalaman tentang operasi Skoliosis, bukan untuk memberikan opini atau pendapat medis. Terima kasih, semoga bermanfaat dan TETAP SEMANGAT!

Saturday, January 09, 2016

Jika Skoliosis di-cuekin

Ada pertanyaan yang dikirim lewat email seperti ini :
Apa dampaknya jika Skoliosis tidak segera ditangani sedini mungkin atau dibiarkan saja?
Saya hanya menyeringai membacanya. Mungkin si ibu penanya sudah "mulai lelah" dengan kondisi sang putri. Tetap semangat ya bu, pasti ada jalan dari gusti Allah.

Saya kutipkan jawaban dokter yg dulu pernah saya pernah bertanya :

Jika skoliosis didiamkan, lama kelamaan tidak hanya akan memperburuk postur tubuh, tetapi juga mengakibatkan nyeri otot dan juga masalah pada pernapasan. Skoliosis dengan derajad kemiringan yg rendah mungkin tidak sampai mengganggu penderitanya. Tetapi jika sudut kelengkungannya sudah tinggi, penyandang skoliosis biasanya akan mengeluhkan banyak masalah dari bagian yang terkena dampak lengkungan abnormal pada tulang punggung mereka.  Bisa berupa sakit pinggang -karena otot di sekeliling tulang punggung tidak simetris sehingga cepat lelah, atau kalau bengkoknya di tulang punggung atas juga bisa mengakibatkan rongga paru2 menyempit sehingga pasien mudah terkena gangguan penapasan,
Semoga info ini membantu bapak/ ibu untuk bisa segera menetapkan hati dalam memilih tindakan yang paling tepat dan bijak untuk puteri bapak/ ibu.

6 comments:

  1. Apakah skoliosis jika dibiarkan bisa menyebabkan kematian?

    ReplyDelete
  2. Kendati skoliosis tak menimbulkan kematian, tapi bisa menimbulkan gangguan sistem kardiovaskuler jantung dan pernapasan. Sebab bisa mengakibatkan volume paru-paru atau rongga dada akan berkurang karena sebagian tulang bengkoknya mengambil ruang atau tempat paru-paru. Gejalanya berupa sesak napas, karena kemampuan paru-paru menurun. Sudah pasti pula penderita skoliosis tidak akan kuat bekerja berat. Mungkin pada usia 40 tahunan akan timbul osteoartrosis (pengapuran tulang) di mana akan timbul rasa sakit pada tulang belakang.

    ReplyDelete
  3. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete
    Replies
    1. mohon maaf komentar yg tdk relevan terpaksa saya hapus.

      Delete
  4. mohon maaf komentar yg tdk relevan terpaksa saya hapus

    ReplyDelete
  5. Seorang pengunjung pernah menanyakan operasi skoliosis di Samarinda.
    Link ini mungkin membantu : http://kaltim.prokal.co/read/news/61967-ruas-tulang-dipotong-tanam-besi-penyangga

    Operasi skoliosis yang sebelumnya harus dirujuk ke Jakarta, kini dapat dilakukan di Balikpapan.

    Rikip Agustani, Balikpapan

    SKOLIOSIS adalah kelainan yang ditandai dengan kelengkungan tulang belakang. Umumnya diderita perempuan. Dari empat perempuan di Indonesia satu di antaranya menderita skoliosis ini. Sedangkan pada pria, kecenderungan menderita penyakit ini sangat kecil. Perbandingannya, dari 100 pria, hanya satu yang menderitanya.

    Salah satu penderita skoliosis di Balikpapan adalah Riky Raotama. Pria kelahiran Balikpapan 9 Juni 1993 itu menderita skoliosis berat. Ini membuat tulang belakangnya condong keluar lebih 40 derajat. Membentuk huruf S.

    Dokter di Rumah Sakit Kanudjoso Djatiwibowo (RSKD), Balikpapan, yang sebelumnya merawat Riky, mengaku tidak mampu menangani operasi skoliosis tersebut. Ia sempat akan dirujuk untuk dioperasi di Jakarta. Namun urung dilakukan karena dr Alvarez Zevanya Moningka SpOT, dokter Ortoperdi Siloam Hospitals Balikpapan bersedia menangani operasi tersebut.

    “Saya dapat informasi dari istri saya yang bekerja di Kejaksaan Negeri Balikpapan, kalau ada pasien skoliosis yang harus segera dioperasi. Karena dikhawatirkan tulangnya menusuk ke jantung. Saya langsung mengiyakan untuk membantu. Apalagi pasiennya dari kalangan tidak mampu,” katanya ketika ditemui Kaltim Post, kemarin.

    Sekali operasi skoliosis membutuhkan biaya yang cukup besar, yakni Rp 150 juta. Biaya itu untuk mendatangkan alat penyangga yang akan ditanamkan di tulang penderita. Keluarga dan teman-teman Riky sebelumnya sempat melakukan penggalangan dana untuk operasi. Namun saat bertemu dengan dr Alvarez, ia pun bersedia menjamin semua biaya tersebut.

    “Saya mendapatkan alat penyangga tersebut dengan harga yang murah setelah bernegosiasi dengan provider penyedia alat. Saya juga bilang ke keluarga Riky untuk menyimpan uang hasil sumbangan itu untuk pengobatannya dan pembelian obat saja,” ucap pria berkacamata itu.

    Operasi itu berlangsung pada Senin (24/2), selama sembilan jam. Dimulai pada pukul 10.00 hingga pukul 19.00 Wita. Tim dokter, diketuai dr Alvarez, yang dibantu oleh dr Tommy Suharso, SpOT (K) Spine, dan dua dokter anestesi yang didatangkan dari Siloam Hospitals Manado, yakni dr Agung Purnomo SpAn dan dr Iskandar Rauf SpAn. Sebelum operasi, ia ingin mengajak dokter bedah lainnya untuk bergabung, namun hal itu diurungkannya. Karena ayah empat anak ini, yakin operasinya berjalan dalam satu tahap saja.

    Tim dokter lalu melakukan operasi dan pemasangan alat penyangga tulang belakang (pedicle screw fixation). Pemasang itu dilakukan untuk meluruskan tulang belakang Riky yang sebelumnya bengkok. Sebelum itu, tim dokter harus melakukan pemotongan beberapa ruas tulang rusuk pasien. “Besi penyangga itu sifatnya nonpermanen. Dalam satu atau dua tahun, jika merasa sudah membaik bisa dicabut,” katanya.

    Operasi yang dilakukan tim dr Alvarez memang sangat berat. Mengingat pertumbuhan tulang Riky sudah berhenti, sehingga membuat tulangnya menjadi keras. Ini menyulitkan dokter saat melakukan penyambungan. “Kendala terberatnya di situ (menyambung). Selain itu tidak ada kendala lainnya,” ujar dokter spesialis Orthopaedi Traumatologi lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI) Jakarta pada 2008 ini.

    Keberhasilan tim dokter, pascaoperasi tersebut adalah kaki Riky dapat digerakkan dengan baik. Pascaoperasi yang menjadi ketakutan dokter adalah kaki pasien tidak dapat digerakkan, karena operasi itu bekerja di daerah saraf belakang tulang, yang jika salah melakukan tindakan medis, kaki pasien tidak bisa bergerak sementara. “Puji Tuhan, Riky bisa bergerak setelah operasi,” ucapnya.

    ReplyDelete